Lord is in the details.

It’s in a sincere and long apology from your husband who forgot your birthday, today.

It’s in the deep listening of your best friend when you don’t even say a word.

It’s in the “you’ve done what you could” of your boss when you don’t win the pitch.

It’s in the excited hug of your niece after you had a really tough day.

It’s in the “i know you can” of moms, every time you hit the bottom.

It’s in the “i don’t mind” of your lover when you ask them to go to places they aren’t really into.

It’s in the “don’t bother them” of your squad when you’re not wrong but the world feel you are.

It’s in the eyes of worry of your loved ones whenever you have to do something riskier than ever.

It’s in the pat on the back of your elementary teacher, when they met you at reunion and realized how successful you are now.

It’s in the tears of your bridesmaid when you walk in and rockin’ that dress.

It’s in the reflex of your older sibling to distract you from things you shouldn’t see.

It’s in the confusion of your in-laws on picking the right color for your shawl.

It’s in the silence of a wise man who knew everything but don’t brag about it.

It’s in the annoying reminder of your grandchild to ensure you take the medicine.

It’s in the memory of a stranger who remember the good you did to them.

In the end,

He’s in the details of every compassion

you tend to forget.

Advertisements

Kala Dini

Selalu terjadi.

Di kala dini.

 

Sayup-sayup menyeru,

“Ada yang lebih besar dari ini, Nak.

Ada.”

 

“Di luar semua ini, Nak.

Jika kau henti sejenak.”

 

Suara yang sama.

 

“Kamu tahu, Nak. Kita┬álebih dari ini.

Kamu tahu itu.”

 

“Jangan mau, Nak. Jangan mau terpaku.”

“Jangan lelah menyelamiku.”

 

“Rasakan lagi, Nak.”

“Selaraskan kembali, nafasmu itu.

Dengan nafasku.”

 

“Kala itulah kau kan temui.

Misi yang kau cari.

Percik yang abadi.

Yang hidupi peranmu di tanah ini.

hingga kau tinggalkan tubuh ini.”

 

“Niscaya gemamu lestari.

Niscaya.”

 

Kala dini.

Suara itu berbisik lagi.

 

 

Bawah Tanah

Jauh di dalam sana
Sesungguhnya
Jika mereka membuka telinga
Lebih seksama
Tersimpanlah sebuah suara.

Samar
Namun menggelegar.
Tertumpuk
Namun menusuk.

Jauh di sudut sana
Suara menyebut dirinya “Suara”
Ia slalu serukan hal yang sama.

“Suara ingin sepasang tangan”
‘Tuk menariknya dari endapan.

“Suara butuh panjangnya lengan”
Yang gigih menggalinya
hingga terdalam.

“Suara mau cerdiknya jari”
Yang berhasil menangkap ia punya seruan, saat yang lain menolak bertahan.

Suara hanya butuh itu.

Hingga kini
Ia kumandangkan tiap malam
Asa yang sama.

Harapnya
Akan ada balasan di sana
Bukan berupa suara pula
Melainkan sebuah organ yang nyata.

Di mana.

KCW.

api lupa diri,

seni terkhianati.

menyesakkan.

 

lagu cintamu kini?

ditata padat kunci,

kosong dalam isi.

 

lirik bicara setia

di hati,

bahkan mentiga.

 

di pentas kau gandakan tiap paras

agar senyum seolah lepas

namun lubuk terus mengeras

 

 

sinemamu, tuan.

gaungkan cinta negara

namun tak lebih dari propaganda

entah demi kepala yang mana

yang hendak kau jilat dengan rata.

W.

jangan tanggalkan warnamu

demi bara baru.

sebab percik abadi

takkan memintanya binasa.

mengapa?

sebab ia tahu,

warnamu adalah asa

yang lahir bukan tanpa rencana

hadir memang sengaja

dicipta sedemikian rupa.

sebab ia sadari,

warnamu bersuara

kumandangkan sesuatu

yang lebih akbar

daripada sekadar.

tak hanya untuknya

namun juga dunia.