Kala Dini

Selalu terjadi.

Di kala dini.

 

Sayup-sayup menyeru,

“Ada yang lebih besar dari ini, Nak.

Ada.”

 

“Di luar semua ini, Nak.

Jika kau henti sejenak.”

 

Suara yang sama.

 

“Kamu tahu, Nak. Kita┬álebih dari ini.

Kamu tahu itu.”

 

“Jangan mau, Nak. Jangan mau terpaku.”

“Jangan lelah menyelamiku.”

 

“Rasakan lagi, Nak.”

“Selaraskan kembali, nafasmu itu.

Dengan nafasku.”

 

“Kala itulah kau kan temui.

Misi yang kau cari.

Percik yang abadi.

Yang hidupi peranmu di tanah ini.

hingga kau tinggalkan tubuh ini.”

 

“Niscaya gemamu lestari.

Niscaya.”

 

Kala dini.

Suara itu berbisik lagi.

 

 

Bawah Tanah

Jauh di dalam sana
Sesungguhnya
Jika mereka membuka telinga
Lebih seksama
Tersimpanlah sebuah suara.

Samar
Namun menggelegar.
Tertumpuk
Namun menusuk.

Jauh di sudut sana
Suara menyebut dirinya “Suara”
Ia slalu serukan hal yang sama.

“Suara ingin sepasang tangan”
‘Tuk menariknya dari endapan.

“Suara butuh panjangnya lengan”
Yang gigih menggalinya
hingga terdalam.

“Suara mau cerdiknya jari”
Yang berhasil menangkap ia punya seruan, saat yang lain menolak bertahan.

Suara hanya butuh itu.

Hingga kini
Ia kumandangkan tiap malam
Asa yang sama.

Harapnya
Akan ada balasan di sana
Bukan berupa suara pula
Melainkan sebuah organ yang nyata.

Di mana.