Kala Dini

Selalu terjadi.

Di kala dini.

 

Sayup-sayup menyeru,

“Ada yang lebih besar dari ini, Nak.

Ada.”

 

“Di luar semua ini, Nak.

Jika kau henti sejenak.”

 

Suara yang sama.

 

“Kamu tahu, Nak. Kita lebih dari ini.

Kamu tahu itu.”

 

“Jangan mau, Nak. Jangan mau terpaku.”

“Jangan lelah menyelamiku.”

 

“Rasakan lagi, Nak.”

“Selaraskan kembali, nafasmu itu.

Dengan nafasku.”

 

“Kala itulah kau kan temui.

Misi yang kau cari.

Percik yang abadi.

Yang hidupi peranmu di tanah ini.

hingga kau tinggalkan tubuh ini.”

 

“Niscaya gemamu lestari.

Niscaya.”

 

Kala dini.

Suara itu berbisik lagi.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s